Kamis, 11 Oktober 2012

Bau Penis



/1/
Saat aku mencatat dan mulai bekerja, kau nikmati punggungku yang berlalu sembari mulai menghubungi nomor-nomor yang kau samarkan.
“Hallo, sayang.”
Tiba-tiba tubuhmu telanjang dan menggeliat-liat karena seekor anjing merubung kelaminmu. Dan langit-langit kamar, juga dindingnya, merekam keringat dan sauh yang tertelan di mulutmu.
: saat itu kau tak ingat diriku

/2/
Rasa sakit itu meledak juga. Seperti napsu dan perih batin di silet-silet.
Membayangkanmu, tubuhmu, dan sebuah perselingkuhan manis di sebalik mataku.
Tapi rambut dan tiap sentimeter tubuhku menghafal namamu,
Mengendus amis yang bukan milikku. “Mulutmu bau amis penis, sayang.”
Kau menangis. Aku juga. Meski aku tak perduli

/3/
Kudapati aku mengangkangi pelacur dengan dada dan selakangan yang seribu kali lebih bagus dari kau, sayang.
: saat itu aku tak ingat dirimu

2011

Citra D. Vresti Trisna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar