Kamis, 20 Oktober 2011

Pil Koplo dan Tanya Sedih


untuk kematian yang menjelang tiba, gelas diangkat. disusunnya sebuah peta sampai ke beranda rumah yang terselip diantara lorong dan gang-gang buntu tempat pil koplo dijual murah
kusaksikan wajah letih dan berpuluh kenang yang tiba-tiba berharga. mengitari dinding ingatan untuk kembali di sanjung, dinyanyikan seperti kunang-kunang yang pamit

lalu di sebuah pagi yang badai, hujan menampar dedaun sampai ke atap: kau pulang dengan doa yang rukun dari kubangan tampat kita yakin bila dosa adalah kawan paling setia.

“dosa juga sebuah cara untuk setia memuji keagungan tuhan.” tukasmu.
ada banyak tanya di kepalaku
yang selalu ingin kujawab sendiri tanpa harus kau yang meminta penjelasan dengan cara paling sepi. Pertanyaan itu untukmu sendiri, kau jawab sendiri,
dengan mati.

pil koplo, dengan tanya sedih
sebuah peta: yang tak satupun tau dimana muaranya

Purabaya, Oktober 2011
Citra D. Vresti Trisna

Rabu, 19 Oktober 2011

pulang

tangis sepanjang jalan menandai hujan di kampung yang mengenang dahan-dahan melamun. bagai lelaki yang tak pernah kuasa atas tangis: gugur di ladang-ladang gambut. humus dari tubuh coreng moreng yang terbaring luka.

aku mengantarmu pulang, kang
pada sepi: pada ribut belasan anjing yang menggonggong di pinggir rel kereta api
memanggil kenang yang diboyong rangkaian gerbong, berjelaga

kang, setiap pisah selalu terselip tangis
tersirat kepulangan untuk kembali mencari wajah perempuan di album foto
: lebaran kemarin

Surabaya, 2010