Senin, 05 September 2011

Keletek malam minggu

Sisa-sisa kotoran ada di sini
di kepalaku dan membuat segalanya runyam. Sedang aku tak bias memilih. Membiarkan malam minggu sendiri: dikutuki sumbar-sumbar keparat
remaja kampung

kalau saja….

#
Sunyi, kesunyian…
Ingatan robek pada luka-luka, silam
Sedang menggerutu pun gagal

Kesal sendiri, melihat yang tasdi ngoceh, sekarang diam; mulutnya di sumpal nasi bungkus

#
Sekarang lelaki itu sudah kenyang. Kini repot dengan selilit yang nyelip  di gigi. Sebelum selilit itu hilang dan dia kembali mengoceh, sebaiknya aku pulang.
Membaca-baca buku di rumah sampai pagi tiba.

Keparat betul malam minggu ini.

#

Warung kletek,
Pengampu – Sunari Sudrun.

Citra D Vresti Trisna

orang gila

ia menunggu muara yang mengalirkan derita pada laut hatinya kering, sebelum akhirnya memutuskan pulang dan kembali berkebun
matanya biru menatap kapal kertas yang melintas, sebelum akhirnya karam,
tenggelam
hatinya telah jauh lebam,
harusnya malam ini dia memeluk putrinya yang pulang dari rantau
ada kabar sesaki dadanya

menunggu hening sebelum akhirnya menjadi pagi
detik menenun menit, menjahit jam
berganti-ganti

penantian lelaki adalah kalap yang justru tak kenal akal
cuma batin,
janji batin yang pada akhirnya menyelesaikan waktu, dan kita harus lohor

Sidoarjo, 2010
Citra D. Vresti Trisna

"berdua" saja

Tidurlah, sayang! Dalam kasih yang
merupa impian bersama – di kota yang tak pernah terpejam

Maka datanglah hujan, yang menjadikan hangat
dimana hanya kita yang tau bagaimana rasanya

Kita berjalan diantara malam, diantara tinggi ilalang
melihat bintang, disana: berdua saja

Kletek, 2011

Keletek

1
Sungguh aku adalah bayangmu:
setia pada cinta dan mengantarmu tanpa bicara
dan untuk sakit yang selanjutnya biar aku
yang membayar
            karena mengikutimu, karena mencintaimu

tapi jangan mengabariku soal malam pengantin, kekasihmu
karena aku tetap setia: meski untuk cerita itu

2
Di kotaku: Kletek
Yang kau sebut dengan nama setia
Masih menyimpanku untuk kopi yang harum di batas,
di pagi, saat hari memulai semuanya

Maka,
jangan menyebut setia
di depanku
sebab kau adalah penghabisan
: yang tak setia

Kletek, 2011