Tampilkan postingan dengan label Jaman Biyen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jaman Biyen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

Dedes



kau tak pernah berkata apa-apa,
kecuali membiarkanku terus menciumi jenjang lehermu
meyakini percumbuan pahit rindu selalu berdarah
“luka pertemuankah ini, kakang?” ucapmu.

diam, diamlah, manisku
biarkan bisik batu kali menggunjing dengan bahasanya yang gelap
menghadiahi kita kalungkalung hijau cahaya dari kerlip kunang
karena anak-anak kita akan lahir di bilik ini

dedes, manisku
lontar-lontar manakah yang membawamu sampai kemari
restu dewa apakah yang iba karena merasa iba karena pernah merasai rindu

kau pun kembali menyalakan damar
“agar dewa-dewa memberi restu.”

lalu, damar dipadamkan

Bangkalan, 2010

Citra D. Vresti Trisna

Bau Penis



/1/
Saat aku mencatat dan mulai bekerja, kau nikmati punggungku yang berlalu sembari mulai menghubungi nomor-nomor yang kau samarkan.
“Hallo, sayang.”
Tiba-tiba tubuhmu telanjang dan menggeliat-liat karena seekor anjing merubung kelaminmu. Dan langit-langit kamar, juga dindingnya, merekam keringat dan sauh yang tertelan di mulutmu.
: saat itu kau tak ingat diriku

/2/
Rasa sakit itu meledak juga. Seperti napsu dan perih batin di silet-silet.
Membayangkanmu, tubuhmu, dan sebuah perselingkuhan manis di sebalik mataku.
Tapi rambut dan tiap sentimeter tubuhku menghafal namamu,
Mengendus amis yang bukan milikku. “Mulutmu bau amis penis, sayang.”
Kau menangis. Aku juga. Meski aku tak perduli

/3/
Kudapati aku mengangkangi pelacur dengan dada dan selakangan yang seribu kali lebih bagus dari kau, sayang.
: saat itu aku tak ingat dirimu

2011

Citra D. Vresti Trisna

Senin, 05 September 2011

Setiap Pagi

1
setiap pagi aku selalu membaca jejakmu lewat gambar diam yang berserak
segala kemanisan akan kenang
kau, perempuan
mengapa tak kau simpan ragumu di kulkas, lantas kita berpelukan saja
sebab segalanya seperti mudah
laksana ayam yang berlarian: kawin


2
setiap pagi, sehabis keluar kamar, aku selalu menyempatkan melirik wajahmu dalam sebuah dompet. apa kau juga melakukan itu, sayang? sebab memang seperti itu yang selalu kita janjikan, dulu. masihkah kau?
atau?

kupikir kita memang tak pernah pandai bertanya, bicara.
sebaiknya kita diam
melihat, menantikan esok sambil minum kopi.

3
setiap pagi

setia
pada
pagi: mengingatmu

April, 2011
Citra D. Vresti Trisna

anak-anak malam

susun jasatmu menjadi klenik, lalu datangi aku. tangkap jiwaku dan kan kubukakan pintu esok pagi.
karena kebohonganmu selalu kumaklumi saat aku kembali menutup pintu selepas sore.
aku sudah terbiasa dengan ketidakadilan yang selalu datang pagi-pagi

setiap malam, selalu kusempatkan mengecup kening dari setiap mimpi buruk
tentang dapur-dapur lengang.

mereka sudah seperti anak-anakku sendiri,
apalagi cuma itu yang kau titipkan,
memasrahkan padaku untuk merawatnya.

sepanjang malam ini
banyak orang-orang memaki
matanya merah: mengutukimu
: bapak dari anak derita yang lahir di rahim orang-orang miskin.

Kita sudah menjadi semacam bango samparan yang harus merawat dan menampung anak jadah yang tidak lagi kenal aturan.

Bangkalan, 2010

riwayat api

senja yang menarik bunga-bunga adalah hari ini,
dimana aku menemukan biji matamu diantara kerumun badik

sehabis malam,
cuma resah membatu
menebak siapa yang datang saat pintu berderit dan terbuka
napasmu kah yang sampai lebih dulu sebelum tiba pelukan?


orang-orang  berkelakar
bersila,
mukanya berkakuan mengasah parang-parang panjang

komat-kamit mantra terbaca sudah

“ini karat musti hilang sebelum hari menjelang pagi”
lantas tak ada yang terdengar kecuali  kerumun berbisik,
 sandal-sandal yang pulang karena darah adalah bahasa

membaca mantra-mantra
: perihal mencintai gadis orang

Bangkalan, 2010
Citra D. Vresti Trisna
 

 

orang gila

ia menunggu muara yang mengalirkan derita pada laut hatinya kering, sebelum akhirnya memutuskan pulang dan kembali berkebun
matanya biru menatap kapal kertas yang melintas, sebelum akhirnya karam,
tenggelam
hatinya telah jauh lebam,
harusnya malam ini dia memeluk putrinya yang pulang dari rantau
ada kabar sesaki dadanya

menunggu hening sebelum akhirnya menjadi pagi
detik menenun menit, menjahit jam
berganti-ganti

penantian lelaki adalah kalap yang justru tak kenal akal
cuma batin,
janji batin yang pada akhirnya menyelesaikan waktu, dan kita harus lohor

Sidoarjo, 2010
Citra D. Vresti Trisna