Tampilkan postingan dengan label Warung Andalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warung Andalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2011

menuju hilang


kau mengajariku suluk bunyi
gemerincing tari-tarian doa mencari kubangan
kota paling sepi

adalah kotamu, ning
tersenyum pada dermaga dan menyambutku
di peluk paling perempuan
            kita berjalan menuju hilang

“aku tak akan menemuimu lagi” ucapmu

Keletek, 2011

Senin, 05 September 2011

Keletek malam minggu

Sisa-sisa kotoran ada di sini
di kepalaku dan membuat segalanya runyam. Sedang aku tak bias memilih. Membiarkan malam minggu sendiri: dikutuki sumbar-sumbar keparat
remaja kampung

kalau saja….

#
Sunyi, kesunyian…
Ingatan robek pada luka-luka, silam
Sedang menggerutu pun gagal

Kesal sendiri, melihat yang tasdi ngoceh, sekarang diam; mulutnya di sumpal nasi bungkus

#
Sekarang lelaki itu sudah kenyang. Kini repot dengan selilit yang nyelip  di gigi. Sebelum selilit itu hilang dan dia kembali mengoceh, sebaiknya aku pulang.
Membaca-baca buku di rumah sampai pagi tiba.

Keparat betul malam minggu ini.

#

Warung kletek,
Pengampu – Sunari Sudrun.

Citra D Vresti Trisna

Keletek

1
Sungguh aku adalah bayangmu:
setia pada cinta dan mengantarmu tanpa bicara
dan untuk sakit yang selanjutnya biar aku
yang membayar
            karena mengikutimu, karena mencintaimu

tapi jangan mengabariku soal malam pengantin, kekasihmu
karena aku tetap setia: meski untuk cerita itu

2
Di kotaku: Kletek
Yang kau sebut dengan nama setia
Masih menyimpanku untuk kopi yang harum di batas,
di pagi, saat hari memulai semuanya

Maka,
jangan menyebut setia
di depanku
sebab kau adalah penghabisan
: yang tak setia

Kletek, 2011