Rabu, 19 Oktober 2011

pulang

tangis sepanjang jalan menandai hujan di kampung yang mengenang dahan-dahan melamun. bagai lelaki yang tak pernah kuasa atas tangis: gugur di ladang-ladang gambut. humus dari tubuh coreng moreng yang terbaring luka.

aku mengantarmu pulang, kang
pada sepi: pada ribut belasan anjing yang menggonggong di pinggir rel kereta api
memanggil kenang yang diboyong rangkaian gerbong, berjelaga

kang, setiap pisah selalu terselip tangis
tersirat kepulangan untuk kembali mencari wajah perempuan di album foto
: lebaran kemarin

Surabaya, 2010

3 komentar:

Yayag YP mengatakan...

"Setiap pisah selalu terselip tangis..."

Disitu sukaku melarung puisimu yang ini mas.

Citra D. Vresti Trisna mengatakan...

Suka menangis ya? kayaknya ada pengalaman serius soal menangis!

Yayag YP mengatakan...

Hanya dimusim menangis saja, tidak sepanjang musim, hehehe...

Posting Komentar